Sejak pertama PTT sampe sekarang, aku udah berganti kamera
dua kali….ada yang karena kecewa sama hasil fotonya, dan ada juga yang karena
kameranya rusak….jadi WAJIB beli
yang baru… hehe. Aku lumayan suka dunia fotografi….tapi gak serius-serius amat
sih…sekedar suka aja. Dulu aku sering banget browsing di internet dan cari-cari
info seputar perkembangan dunia fotografi….sekedar mencari tau info ttg dunia kamera,
belajar sedikit ttg teori fotografi maupun mencari info tentang produk-produk
terbaru yang sedang “hot”.
![]() |
Panasonic Lumix Fs 62 |
Sebetulnya waktu itu ada sih kamera Lumix tipe FS 42, kembarannya FS 62. Spesifikasinya mirip, yang bedain cuma lensanya aja….FS 62 pake lensa Leica, sedangkan FS 42 pake lensa buatan Panasonic sendiri (Lumix). Tapi aku ngga mau pilih FS 42, karena memang lensa Leica jadi salah satu daya tarik utama kenapa aku pengen beli Lumix FS 62....(pdhl cm beli kamera ecek2, tapii banyak banyak banget maunya....hahaha)
Akhirnya terpaksalah aku harus mencari alternatif kamera
yang lainnya. Pilihanku akhirnya jatuh ke Canon ixus 95is. Alasan aku pilih
kamera ini karena ukurannya yang pas (ngga terlalu besar, juga ngga terlalu
kecil), punya optical
viewfinder (aku mikirnya bisa biar hemat batere, moto pake OVF dan LCDnya
di matiin) dan alasan terakhir…. because
it’s a Canon… Aku sebetulnya ngga terlalu makan merk, tapi….semua juga tahu
kalo Canon dan Nikon adalah pemimpin pasar dibidang kamera digital (terutama di kelas DSLRnya), apalagi
hasil review di internet juga bilang kalo kamera ini lumayan bagus.
![]() |
Canon ixus 95is |
Akhirnya aku belilah si ixus ini….waktu itu harganya sekitar
dua jutaan. Lalu aku bawa kamera ini buat nemenin aku ke Sulawesi .
Jeprat - jepret, rekam sana
– rekam sini…menurutku hasilnya “lumayan”. Tapi jujur aku masih penasaran sama
si Lumix FS 62. Bolak-balik aku baca tentang hasil review si Lumix ini di
netbook-ku, dan aku jadi makin kepincut dibuatnya…. 😄
Setelah beberapa bulan di Sulawesi ,
kebetulan aku ada kesempatan buat libur mudik lebaran. Akupun kemudian pulang
ke Bandung .
Pucuk dicinta ulam pun tiba…rupanya waktu itu kakak perempuanku ada niat buat
beli kamera. Daann….karena dia itu orangnya rada gaptekk…maka
bertanyalah dia sama aku. Mmmmhhh…kesempatan nih….*haha… Dia waktu
itu nyerahin ke aku, “pokoknya pangbeliin kamera yang bagus yang harganya 2
jutaan”…. Pas! Akhirnya duitnya aku belikan si Lumix deh…. 😬
Jeprat…jepret…jeprat…jepret… aku mulai bandingkan kedua
kamera ini. Hmmm…hasil fotonya si lumix lebih bagus, user interface si Lumix juga user
friendly banget, belum lagi fitur-fiturnya yang menarik. Secara keseluruhan
menurutku si lumix ini lebih unggul dari si ixus (ini menurut aku yang awam :p). Akhirnya aku rayu lah
kakakku ini buat tukeran kamera….ehh, ternyata dia mau…..
Alhamdulillah ya......
![]() |
no yellow no glow....... (by: Lumix Fs 62) |
Jujur aja, aku suka banget dengan kamera baruku ini, hasil2
fotonya aku suka, warnanya lebih bagus…hijaunya daun terlihat hijau… (ya
iyalahhh…) dan aku juga suka fitur macro
zoom dan sunset scene-nya. Overall aku puas dengan kamera ini... 🤝
Kamera ini kemudian menjadi sahabatku ngebolang di Sulawesi selama beberapa bulan dan kemudian di Papua. Tapi
sayangnya umur kamera ini ngga terlalu lama…. 😢
Pas aku PTT di Papua kamera ini rusak. Waktu itu aku ada
pelayanan ke kampung Yall…. Perjalanan ke kampung Yall ini lumayan jauh dan
naik turun gunung. Aku yang belum lama datang ke Papua dan baru pertama kali
pelayanan ke kampung Yall, merasa sangat excited.
Aku ngga mau menyia-nyiakan momen ini, makanya aku jeprat..jepret…jeprat..jepret
terus sepanjang perjalanan.
Tapi sialnya, rupanya pas perjalanan pulang hujan mulai
turun, tapi aku cuek! Karena waktu itu perjalanannya betul2 menarik dan
menantang….makanya aku paksa terus memfoto dan merekam sepanjang perjalanan.
Bayangin aja, karena waktu itu hujan deras makanya sungai yang memisahkan bukit
Mugi dan bukit Yall jadi banjir…akibatnya kita ngga bisa nyebrangin sungai
tersebut. Terpaksalah kita harus memutar…dan mutarnya tuh lumayan jauh….
Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh dalam 2,5 jam kini jadi 4,5 jam! Dan
kita harus menyebrangi sungai2 kecil yang berarus deras (karena hujan deras)
yang lebarnya sekitar 3-4 meter. Kita sampe harus membentuk rantai manusia
supaya kita bisa menyebrang dengan selamat dan tidak terbawa arus… dan saking
capenya, aku sampe melepas celana panjangku dan hanya memakai kaos serta (maaf)
celana dalam doang! (habis waktu itu celananya agak longgar, jadi sering melorot
dan bahannya juga semi jeans, ditambah tu celana basah kena hujan….jadi
menghambat gerak kakiku dan berjalan juga jadi terasa lebih berat. Ya udah…aku
lepas deh celananya….😄). Ditengah perjalanan, saking cuapekknya…aku sempat
tiduran bentar di teras sebuah gereja tua yang ada di kampung Samba… Ahh,
pokoknya perjalanan pertamaku ke kampung Yall betul2 amazing tapi juga bener-bener melelahkan….
Capek euyy....!! (photonya terpaksa harus disensor! 🙏) |
Ternyata ngga cukup sampai disitu….perjalanan ke Yall juga memakan korban! Yup, gara-gara dipaksa buat jeprat-jepret dibawah hujan…akhirnya LCD kameraku jadi rusak gara-gara kemasukan air, ga bisa dipake lagi deh. Aarrrrggghh tiiiddaakkk…... 😣
Akhirnya aku kirimkan kamera tersebut ke kakakku di Bogor . Aku minta supaya
kamera tersebut bisa diperbaiki. Tapi ternyata biaya perbaikannya hampir sama
dengan harga baru kamera tersebut saat itu. Ya udah, ga jadi diperbaiki deh….
Tapi aku ngga mau berlama-lama tanpa kamera… Hei! Papua itu
indah bung dan kapan lagi aku bisa berada di pedalaman dengan segala
keunikannya seperti ini….makanya aku pengen segera bisa dapet penggantinya.
Tapi daripada beli kamera baru….aku coba
deh ngerayu kakakku supaya kamera ixusnya bisa dikirimkan ke aku…..dan berhasil!
Rupanya karena jarang dipake akhirnya kakakku bersedia melepas si cantik ixus
itu ke tanganku…... 😁
Terbisa memakai Lumix dan sekarang memakai ixus…..jujur aja
aku ngga puas. Walaupun secara build
quality si ixus ini terasa lebih mantap, tapi si lumix menurutku bisa menghasilkan foto yang lebih indah
dibandingkan ixus. Apalagi untuk zoom
macro-nya, (digital) macro-nya
ixus mah lewat dehh…. Setelah memakai ixus selama beberapa bulan di Papua,
akhirnya aku putuskan tuk melepasnya…. kamera ini kemudian aku jual ke Mantri
di Puskesmasku.
Si ixus aku jual karena aku kecewa sama hasil jepretannya
dan aku kemudian berniat menggantinya dengan kamera yang lebih baik. Tadinya
aku mau kembali ke lumix….pilihannya antara Lumix LX 5 atau Lumix seri TZ (Traveler Zoom). Tapi akhirnya aku lebih
condong ke Lumix seri TZ, alasannya karena lebih murah dan karena punya optical zoom yang besar....(secara
namanya juga tugas dipegunungan, fitur zoom lumayan dibutuhkan buat moto objek-objek yang jaraknya cukup jauh). Selain itu, aku pilih lumix karena di tahun2
sebelumnya mereka jadi rajanya kelas traveler
zoom.
Akhirnya aku mulai browsing-browsing di internet… disana ada
Lumix seri TZ terbaru, yaitu Lumix TZ 20. Tapi sayang, rupanya kali ini seri TZ
terbaru ini mendapat hasil review
yang ngga terlalu bagus. Bukannya jelek, tapi karena persaingan semakin ketat,
dan kamera dari merk pesaing punya kualitas maupun fitur yang lebih baik dari
Lumix TZ 20 ini. Dari review-review yang aku baca, akhirnya aku memutuskan
untuk beli kamera Sony DSC - HX9V. Kamera ini menurut beberapa situs review
mendapatkan penilaian yang sangat baik, highly
recommended gitu deh….
Kebetulan kamera ini keluaran baru, dan belum ada
ditoko-toko kamera di Bandung maupun Jakarta . Bahkan di toko
kamera online juga belum ada. Waktu itu hanya ada satu toko kamera online yang
menjualnya, tapi bukan yang garansi resmi melainkan garansi toko (istilahnya
apa ya…barang BM kali ya?). Tapi aku pikir daripada nunggu yang resmi kelamaan,
toh barangnya juga sama-sama baru… ya udah deh aku tebus aja ‘tu kamera dengan
harga Rp. 3.250.000 ditambah ongkos kirimnya.
Kesan pertama pas lihat kamera ini….gagah, keren dan
terkesan sangar…. (lebayyy 😂), walaupun sama-sama kamera pocket, tapi kamera ini lebih tepat dibilang sbg kamera prosumer. Kamera
ini terasa mantap digenggaman, dan lebih berat dibanding si lumix dan si ixus.
Hasil jeprat-jepretnya juga bagus, untuk low
light juga lumayan baik, yang jelas kualitas videonya juga sangat baik dan
udah HD pula, bahkan videonya ngalahin hasil dari Handycam Sony DCR SX65 yang
aku beli belum lama sebelumnya…..(disamping karena ni handycam videonya belum
HD). Dannn...gara2 kualitas video kamera ini yang baik, akhirnya terpaksa itu handycamnya (yg emg jarang dipakai) jadi korban dan aku kasihkan ke kakakku....impas deh -oot-
Yang ngga kalah asyik dari kamera sony ini adalah kamera ini
kaya akan fitur, jadi lumayan akomodatif buat aku yang sedang belajar cara
menghasilkan foto yang baik dan benar alias lagi belajar jeprat - jepret….. 😁 tapi kekurangan kamera ini menurutku karena
dia ngga punya tombol khusus untuk macro…..jadi kurang asyik buat foto-foto
macro…
Kesimpulan review camera menurut aku yg msh awam:
Panasonic Lumix FS 62
: I love it..
Sony DSC HX9V : I like it…
Canon Ixus 95is : ya gitu deh….
![]() |
The beauty of Mugi |
![]() | |||||||||||||
hasil jepretan dgn macro zoom |
![]() |
macro zoom juga |
Kenapa gak sekalian aja beli yang waterproof? Jadi kalau kehujanan kameranya gak apa apa. Jangkan kena hujan, dipake nyelampun bisa.
ReplyDeleteAku punya Lumix DMC TS. Kualitas hasilnya lumayan.
Harganya juga gak beda jauh dengan yang bukan waterproof.
Salam
Evia
Aduh, saya jadi malu postingan saya yg satu ini dicomment oleh seorang Evia Enkoos... :malu
DeleteMba, saya kagum lho sama blognya njenengan....foto2nya kerenn, travelingnya juga mantap. Pengen juga bisa traveling abroad kayak mba evia...apa daya kocek tak sampai...hehe
Iya mba, lumix ts saya suka juga....tapi wktu itu pertimbangan saya pengen cari yg optical zoomnya besar dan kualitas video yg baik, akhirnya pilihan jatuh ke sony hx9v ini... :)
Mba Evi kl mau menyumbangkan lumix TSnya, saya bersedia lho....hehehe
*just kidding mba :)