running text

WELCOME TO MY BLOG...

Monday, September 10, 2012

Mengenal Pesawat Capung

Karena tidak memiliki akses jalan darat, maka otomatis pesawat kecil adalah satu-satunya alat transportasi dari Wamena menuju daerah Nduga. Pesawat kecil atau yang di Jakarta orang biasa sebut dengan istilah pesawat capung, ternyata beragam jenisnya. Saking seringnya naik pesawat capung, aku sampai lumayan hapal sama macam-macam jenis pesawat mungil ini…. :)


Dulu, sebelum aku datang ke Papua….aku beranggapan bahwa twin otter lah pesawat terkecil yang biasa digunakan untuk mengangkut penumpang. Ternyata sekarang setelah aku bertugas di Mugi, bahkan twin otter terlalu besar untuk mendarat disini!! Jadi otomatis harus naik pesawat-pesawat yang ukurannya lebih kecil lagi agar bisa mendarat di landasan yang berukuran relatif pendek. Selain itu, pesawat kecil juga bisa lebih lincah “menari-nari”
alias bermanuver diantara celah-celah pegunungan yang ada disini…

Di Kab. Nduga sendiri pada awalnya terdiri dari delapan distrik dan masing-masing memiliki landasan pesawat sendiri (kalo sekarang sih jumlah distriknya udah banyak karena dimekarkan, Distrik Mugi sendiri sekarang dimekarkan jadi 3 distrik). Terkadang satu distrik bisa memiliki lebih dari satu landasan. Misalnya di distrik Mapenduma, karena wilayahnya yang luas, maka orang-orang yang berada jauh dari ibukota distrik berinisiatif membuat landasan agar pesawat bisa masuk dan memudahkan trasportasi orang maupun barang ke wilayah mereka. Tak heran jika distrik Mapenduma kemudian memiliki 3 buah landasan pesawat, yaitu di ibukota distrik, di kampung Paro dan yang terbaru adalah di kampung komoroam (koroptak).

Dari berbagai landasan yang ada di Nduga, hanya satu landasan yang bisa didarati oleh pesawat twin otter, yaitu di ibukota kabupaten (Kenyam). Lalu ada dua landasan yang bisa didarati oleh pesawat caravan, pesawat yang satu tingkat lebih kecil dari twin otter, yaitu Darakma (Mugi) dan Paro. Sedangkan landasan sisanya, karena terlalu pendek, maka hanya bisa didarati oleh pesawat yang berukuran lebih kecil lagi yaitu jenis pilatus porter ataupun Cessna kecil. Kalo landasannya bisa didarati pesawat besar, otomatis pesawat-pesawat yang lebih kecil juga bisa mendarat disitu, jadi bisa lebih ramai penerbangannya, contohnya di Kenyam.

Bingung dengan istilah-istilah pesawat diatas?? Baiklah…aku  akan coba untuk menjelaskannya kepada para sobat pembaca blog ini sekalian…. :)

Yang akan aku jelaskan disini adalah jenis-jenis pesawat kecil yang melayani penerbangan di wilayah Nduga. Secara umum, pesawat yang terbang ke Nduga juga melayani penerbangan kewilayah-wilayah lainnya yang ada di daerah Pegunungan Tengah Papua ini. Namun ada beberapa maskapai yang terbang ke kabupaten lain, tapi tidak terbang ke Nduga (kalaupun terbang, amat sangat jarang sekali).  

Ok, tanpa banyak kata mari kita mulai saja tour pesawat kita kali ini…. :)


  1. Twin Otter
Twin Otter @ Kenyam
Aku ngga terlalu banyak tahu tentang pesawat ini, karena emang belum pernah naik… :)  tapi setahu aku pesawat ini memiliki daya angkut sekitar 18 – 20 orang penumpang. Disamping itu, pesawat ini membutuhkan landasan yang agak panjang untuk take off ataupun landing, sehingga pesawat ini tidak bisa mendarat di Mugi. Di Nduga sendiri hanya Landasan di Kenyam (ibukota) saja yang bisa didarati pesawat jenis ini.


  1. Caravan
Caravan Susi Air PK-VVE ( skrg sudah R.I.P)
Pesawat ini merupakan buatan Cessna, Amerika. Aku pernah baca di body pesawat caravan milik MAF, tertulis dibuat oleh “Cessna Aircraft Company, Wichita, Texas”. Nama seri lengkapnya sebetulnya “Cessna B208 Grand Caravan”, namun biasa kita sebut dengan caravan saja. Pesawat ini memiliki daya angkut 1, 1 ton alias 1.100 kg (for passengers and cargo only, not including pilot and fuel). Mungkin sebetulnya daya angkut pesawat tersebut bisa lebih banyak, tapi mungkin demi alasan keselamatan, maka kapasitasnya dibatasi hingga 1, 1  –  1, 150 ton saja..
kursi untuk penumpang biasanya terpasang 9 - 10 buah (maksimal), namun kalo barang yang dibawa banyak…biasanya kursi penumpang akan dicopot sebagian atau bahkan semuanya.
Aku dan temenku pernah iseng-iseng nanya ke pimpinan AMA Wamena dan juga ke pilotnya Susi Air….

berapakah harga sebuah pesawat Caravan??


Dan jawaban mereka adalah…………2,3 – 2,5 juta dollar amerika!!

Kalo kurs dollar sekarang sekitar 9.500…..silakan kalikan sendiri deh hasilnya…..aku mah suka pusing kalo liat angka yang kebanyakan nolnya….. :D


  1. PAC
PAC milik AMA (sudah R.I.P)
Di bodynya tertulis “Manufactured by Pacific Aerospace PAC, Hamilton, New Zealand”. Jadi mungkin nama PAC ini merupakan singkatan dari nama pabrik pembuatnya di Selandia Baru sana… daya angkutnya sama dengan caravan, yaitu 1,1 ton tapi kabin pesawat ini lebih kecil karena bodinya memang lebih ramping dibanding caravan. Jadi walaupun daya angkutnya sama, tapi daya muat PAC secara volume masih kalah dibanding caravan.
Yang unik dari pesawat PAC ini adalah pintu untuk pilotnya yang model naik ke atas (gull wing), mirip pintu mobil sport ala Ferrari ataupun Lamborghini gitu. Selain itu, sayap pesawat ini letaknya dibagian bawah bodi dan melengkung diujungnya. Jadi kalo diliat-liat, desain PAC ini memang agak “nyeleneh” dibanding desain pesawat capung lain pada umumnya.


  1. Pilatus
Pilatus Porter milik Susi Air
Nama lengkapnya adalah Pilatus Porter, daya angkutnya 800 kg. Pesawat ini bisa mendarat di landasan pendek sehingga bisa melayani di semua landasan yang ada di Nduga. Kapasitas kursi penumpang 7 orang.
Pesawat ini relatif lebih lincah dibanding caravan, mungkin karena bodynya lebih kecil dan lebih ringan. Menurut Claire, salah seorang pilot Susi Air asal New Zealand, dia lebih suka bawa pilatus ini dibanding caravan karena di udara pilatus ini bisa naik secara lebih cepat (lebih lincah). Dan juga aku pernah lihat seorang pilot AMA, bisa take off  pilatusnya di Mugi hanya dengan “berlari” sejauh 150 meter saja!!


  1. Kodiak
Kodiak milik MAF
Dibuat oleh “Quest Aircraft Company” (ngga tau deh dari negara mana). Bodynya mirip dengan caravan, tapi berukuran lebih kecil. Daya angkutnyapun lebih sedikit, sekitar 600-700  kg. perbedaan lain dibanding caravan, Kodiak tidak punya “perut” alias bagasi dibagian bawah bodynya.

(update:  aku dah lihat di pesawat Kodiak terbaru milik MAF ternyata Kodiak ini dibuat oleh Quest Aircraft Company, Sandpoint USA dan Pesawat Kodiak yang baru ini sudah ada perutnya alias Cargo Pod-nya. Kabar yang aku dengar sih, MAF Wamena berencana mengganti semua Cessna kecil dengan pesawat jenis ini. Alasannya karena Kodiak ini mempunyai kapasitas yang lebih besar dan memiliki kemampuan untuk mendarat di landasan yang relatif pendek, jadi bisa mendarat di hampir semua landasan yang ada di daerah pegunungan tengah Papua.) -April 2013- 
#thanks juga untuk 'Basket Melawi' atas tambahan infonya.... :) 





  1. Cessna
Cessna kecil (PK-MAU)
Ada beberapa Cessna kecil yang ada disini, kesemuanya milik MAF. Kapasitasnya ada yang 320 kg (PK-MAU), 380 kg (PK-MPO) dan 400 kg (PK-MPZ). Aku pernah naik Cessna yang paling kecil alias PK-MAU….alamak kecil banget dalamnya. Waktu itu penumpang ada 4 orang…1 orang di kursi depan (kursi co-pilot) dan 3 penumpang lainnya plus barang ada di belakang. Tadinya aku pikir naik pesawat super mungil kayak PK-MAU ini bakal banyak “goyang” di udara…ternyata tidak! Dua kali aku naik pesawat ini dan semuanya muluss…bahkan “goyangannya” lebih sedikit dibanding pesawat capung dengan ukuran diatasnya, padahal waktu itu cuaca di atas juga agak kurang bagus lho...



Itulah tadi beberapa jenis pesawat capung yang terbang ke wilayah Nduga. Sebetulnya ada satu lagi jenis pesawat yang terbang ke wilayah Nduga, yaitu helicopter. Namun karena heli tidak termasuk jenis pesawat capung, makanya ngga aku masukkan dalam penjelasan diatas. Heli ini biasanya terbang ke wilayah-wilayah sulit yang tidak terjangkau pesawat-pesawat diatas, misalnya karena tidak ada landasan pesawat didaerah tersebut.

Sensasi naik pesawat capung emang beda banget dibanding naik pesawat besar macam boeing atau airbus yang biasa dipakai maskapai penerbangan nasional (garuda, lion, dsb). Bedanya adalah karena pesawat kecil bisa terbang rendah, lebih lincah, kadang kita juga bisa duduk didepan….jadi kita berasa seperti jadi co-pilot gitu... Apalagi ketika pesawat terbang rendah dan meliuk-liuk diantara celah-celah pegunungan, kita bisa melihat dengan lebih jelas pemandangan sepanjang perjalanan berupa hutan, danau, gunung-gunung, sungai dan juga air terjun….(asyik banget kan?!)  Pokoknya naik pesawat kecil memang beda lah sensasinya….semua ini berkat PTT di Nduga….Nduga memang oye..!! :D


Heli TNI yg jatuh di Mapenduma
Tapi semua itu bukannya tanpa resiko, malah high risk sih kalo menurutku. Medan yang berat berupa gunung2 tinggi ditambah cuaca yang sering berubah bisa menjadikan tantangan tersendiri. Sepanjang pengetahuanku, selama tahun 2011 terdapat 6 kecelakaan pesawat (ini yang betul2 jatuh, belum termasuk yang tergelincir dan lain2). Dan dari 6 kecelakaan tersebut, dua diantaranya terjadi terhadap pesawat yang terbang menuju Nduga. Yang pertama adalah helicopter TNI yang jatuh ketika akan mendarat di Mapenduma, dan yang kedua adalah pesawat jenis Caravan milik Susi Air yang terbang dari Wamena menuju Kenyam tapi kemudian jatuh di perjalanan (di daerah Pasema, Kab Yahukimo). Empat kecelakaan lainnya yaitu Pesawat Merpati yang jatuh di Kaimana, pesawat AMA yang gagal take off dan kemudian jatuh di Kab. Pegunungan Bintang, dan Pesawat Susi Air yang jatuh di Kab Intan Jaya. Sedangkan satu kecelakaan lainnya melibatkan pesawat jenis Pilatus milik Yajasi yang jatuh di Kab. Yalimo.

Resiko PTT disini memang besar. Selain karena masih merupakan daerah rawan, juga resiko diperjalanannya (karena harus menggunakan pesawat)….sehingga aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga Tuhan selalu melindungi dan memberikan keselamatan kepadaku selama menjalankan tugas sebagai dokter PTT di Kabupaten Nduga ini….amin.   

12 comments:

  1. mantab bro fuad bolangger nih....

    ReplyDelete
  2. Thank you mas bro....
    Dirimu pernah ke ujung barat, aku ke ujung timur pak....hehehe..

    ReplyDelete
  3. halo. sy lagi cari cari foto pesawat MAF, dan ga sengaja masuk ke sini. :)

    mungkin bisa saya koreksi sendiri, untuk nomor 6, itu adalah Cessna 206 Stationaire, baik PK-MAU, PK-MPZ maupun PK-MPO, semua tipe nya sama dan punya kapasitas yang sama. yang membedakan mungkin dari mesin nya, ada yang pake turbocharged, ada yang tidak. sedangkan kapasitas tempat duduk maksimal 6 orang termasuk pilot.

    kemudian Quest Kodiak, pesawat ini pesawat baru lho, mempunyai kapasitas 9 penumpang dan berat muatan 1.6 ton. pesawat ini mirip dengan Caravan, hanya mempunyai kemampuan STOL (Short Take Off & Landing) yang lebih baik dibanding caravan. Kodiak sekarang sudah ada 'perut' atau cargo pod seperti Caravan, karena sertifikasi nya baru dikeluarkan baru baru ini. :)

    gitu ajah...semoga bermanfaat.
    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal pak,,,

      terima kasih atas tambahan infonya, sangat bermanfaat sekali.
      Nampaknya anda sangat mengenal sekali teknis spesifikasi dari pesawat capung ya.... :)
      mungkin anda benar tentang spesifikasi teknis pak, dan jujur saja saya tidak mengetahuinya sebaik anda.... :)
      tentang perbedaan daya angkut pesawat cessna, pihak MAF di Wamena memang membedakan daya angkutnya pak, mgkn karena alasan perbedaan mesinnya itu pak...Wallahualam.
      tentang kapasitas pesawat. saya juga merasa bahwa sebetulnya kapasitas angkut pesawat2 tersebut bisa lebih banyak, tapi mungkin karena pertimbangan safety/keamanan makanya oleh pihak maskapai kapasitasnya dibatasi jauh dibawahnya....(mgkn karena medan dipegunungan tengah Papua memang berat dan rawan kecelakaan, FYI...sepengetahuan saya, sepanjang 2011 ada 6 kali kecelakaan pesawat di tanah Papua dan kebanyakan terjadi di wilayah Pegunungan Tengah Papua).


      terima kasih atas kunjungannya ke blog saya pak, keterangan anda sangat bermanfaat sebagai tambahan informasi bagi saya dan para pembaca yang lain.... :)

      Salam

      Delete
  4. Keren dah T.O.P bgt dah, jadi bikin saya semangat buat jadi pilot thanks vroh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ok, trima kasih bro....semoga sukses dalam mengejar cita-citanya menjadi seorang Pilot..

      Delete
  5. Replies
    1. terima kasih pak ganang..

      Delete
  6. Sedikit koreksi lagi,sekarang MAF tidak lagi memakai cessna 206 melainkan hanya memakai 2 jenis pesawat.yaitu cessna caravan 208 dan kodiak.adapun jenis caravan yaitu caravan dan grand caravan,secara body sedikit lebih panjang grand caravan,namun untuk sepesifikasi engine sebenarnya berbeda.namun di MAF disamakan guna mempermudah perawatan,

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mas infonya....mantap!

      Delete
  7. Fuad....ternyata disini kerjaanmu...Kangen gak sih ke pedalaman? Pedalaman selalu membawa kenangan yang rasanya ingin terulang kembali...tapi jangan lama-lama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Yas....kapan2 nanti pengen balik. kebayang ngga ya gmn nduga 10 atau 15 thn lagi....apalagi stl ada pelabuhan n jalan tembus

      Delete