Ceritanya waktu itu hari sudah sore dan aku lagi istirahat dirumah. Diluar suasana sedang hujan dan kabut lumayan tebal….pokoknya aku lagi pewe tiduran dikamar di dalam sleeping bagku. Namun tiba2 ada yang mengetuk pintu rumahku….dengan langkah malas, aku berjalan keluar kamar dan membuka pintu depan. Rupanya ada seorang laki2 disitu… (tau wajah tapi ngga tau namanya)
Aku : “Pasien apakah?”
Laki-laki : “Anak-anak, dokter….dia punya
tangan potong…
(terkadang orang disini biasa menyebut tangan atau kaki potong….padahal pas dilihat hanya luka saja)”
(terkadang orang disini biasa menyebut tangan atau kaki potong….padahal pas dilihat hanya luka saja)”
(sebetulnya aku agak
males harus pergi ke Puskesmas lagi sore itu, apalagi karena Puskesmasnya
lumayan jauh dari rumahku (500 m), mana udah sore dan hujan pula…tapi setelah
mendengar kata “tangan potong” aku jadi bersemangat coz itu berarti….pasien
tindakan!!)
Aku : “Iyo? Potong bagaimana
kah?”
Laki-laki : “Dia punya tangan kena
parang….baru potong disini…” (jelasnya sambil menunjuk punggung
tangannya)
Aku : “Ok, kalo begitu tunggu
dulu e..”
Akupun bergegas ganti baju dan mengambil potongan tripleks
untuk dijadikan payung. Setelah mengunci pintu, akupun jalan menuju Puskesmas
dibawah bersama orang tersebut. Di sepanjang perjalanan aku menanyakan mengenai
luka dan bagaimana kronologisnya hingga anak tersebut bisa terluka. Syukurlah
orang ini lumayan bisa berbahasa Indonesia, sehingga akupun ngga
susah nanyanya… dari penjelasan orang ini aku mengetahui kronologis dan
gambaran lukanya. Rupanya ada saudara sepupu anak ini yang masih berusia
sekitar 11 tahun bermain-main dengan
parang….entah bagaimana kejadiannya, tetapi parang tersebut kemudian mengenai
tangan anak ini dan menyebabkan tangannya terluka.
Lukanya cukup besar |
Akupun menyiapkan semua alat dan bahan yang aku butuhkan
untuk menjahit luka tersebut. Kemudian dengan dibantu kepala puskesmas sebagai
asistenku, akupun “mengerjakan” pasienku ini.
Pertama-tama aku bersihkan kulit disekeliling luka tersebut.
Aku bersihkan dengan cairan aqua bidest
dan kassa, lalu aku lap dengan alcohol
swab (kapas alkohol). Sebelum aku membersihkan bagian dalam lukanya, aku
suntik sekeliling lukanya dengan cairan anestesi (penghilang rasa sakit).
Hebatnya, selama aku menyuntik sekeliling lukanya, dia tidak menunjukkan rasa
sakit atau menangis sama sekali! Selesai menyuntikkan anestesi, aku menunggu
sebentar agar obat anestesinya mulai bekerja. Setelah beberapa waktu, aku mulai
mengetesnya. Dengan menggunakan sebuah pinset, aku jepit kulit ditepi lukanya
dan melihat reaksi wajah Notinggen.
“Andi (sakit) ?”,
tanyaku
“Lak (tidak)”,
jawab Notinggen
Akupun mencoba menjepit di titik-titik lain disekeliling
lukanya…
“Andi ‘o lak
(sakitkah tidak) ?”, tanyaku lagi
“Lak “, jawabnya
Setelah memastikan bahwa obat anestesinya telah bekerja,
akupun melanjutkan membersihkan lukanya. Kali ini aku membersihkan bagian dalam
lukanya. Karena sudah diberi anestesi, akupun lebih leluasa dalam membersihkan
bagian dalam luka, tanpa khawatir pasiennya akan kesakitan. Dengan cara ini
bisa memberikan dua keuntungan, pertama kita bisa membersihkan lukanya secara
lebih baik dan pasienpun merasa lebih nyaman (ngga kesakitan).
Selesai membersihkan luka, akupun mulai menjahit lukanya.
Tusukan demi tusukan jarum menembus kulitnya, tapi Notinggen tampak tidak
kesakitan sama sekali. Walaupun sudah dilarang oleh aku dan juga ayahnya, tapi
beberapa kali Notinggen sempat menoleh ke arah lukanya….dan setiap kali dia
melihat lukanya, tak tampak wajah kesakitan ataupun takut melihat luka
ditangannya tersebut. Dia tetap tampak tegar dan begitu tenang…seolah tidak
merasakan apapun….Wahh, hebat banget anak ini!! Padahal pasien2 yang aku jahit
sebelumnya, terutama pasien anak dan pasien perempuan…tak ada yang setegar dan
setenang Notinggen ini. Padahal usia mereka jauh diatas Notinggen.
Dengan dibantu Pak Marthen sebagai asistenku, akhirnya
lukanya berhasil aku tutup. Aku jahit bagian dalam (jahitan dalam) dengan
benang jenis catgut dan untuk menutup lukanya (jahitan luar) aku menggunakan
benang jenis silk. Aku lupa berapa total jahitannya, mungkin sekitar 10 – 13
jahitan kali (lupa!). Selesai dijahit, lukanya aku bersihkan, lalu aku tutup
dengan kassa yang sudah dibasahi betadin dan kemudian aku balut dan aku pasang
spalk juga agar tangannya terfiksasi sehingga meminimalisir gangguan terhadap
lukanya. Aku kemudian memberi obat kepada ayahnya, memberi beberapa nasehat
tentang perawatan lukanya dan menyuruhnya untuk kontrol tiga hari kemudian.
Setelah dianggap mengerti, merekapun aku perbolehkan pulang….
Alhamdulillah, rupanya orang tuanya patuh, sehingga tiga
hari kemudian Notinggenpun datang kontrol dengan ditemani ibunya. Aku melihat kondisi
jahitan dan lukanya, sekaligus juga mengganti kassa dan verban pembalutnya.
Begitulah seterusnya, setiap selang beberapa hari aku suruh mereka control
untuk mengganti verban dan juga menambah obat jika sudah habis.
Selang dua minggu kemudian rupanya si Notinggen sudah tidak
pernah datang kontrol lagi. Selidik punya selidik ternyata karena kedua orang
tuanya sibuk mengurus kebun mereka. Well, sempat kecewa juga sih….tapi aku
tetap berharap Notinggen bakalan datang untuk kontrol lagi. Beberapa hari
kemudian, seperti biasa aku berangkat ke puskesmas. Tapi baru beberapa langkah
dari rumah tiba-tiba aku malah ingin main ke atas, ke rumah ibu guru Eta (Mama
Ezra). Ah, paling Puskesmas sepi, apalagi sekarang masih pagi…mending main dulu
keatas, liat prosotan dan tempat permainan anak TK yang baru…begitu pikirku
waktu itu. Maka mainlah aku ke gereja di atas. Kebetulan belum ada bangunan
sekolah TK di Mugi, jadi anak2 TK untuk sementara menggunakan halaman gereja
untuk tempat bermain mereka…dan gedung distrik untuk tempat belajar mereka.
Di halaman gereja aku lihat anak2 dengan ditemani ibu guru
Eta sedang asyik bermain dengan mainan baru mereka. Ada yang main prosotan, ayunan,
jungkat-jungkit maupun permainan lainnya. Rupanya diantara anak-anak yang
sedang bermain tersebut, aku lihat ada Notinggen…langsung saja aku panggil dia.
Dia pun datang mendekat, kemudian aku periksa balutan tangannya.
Haduhh....perbannya tampak begitu kotor….tapi nampaknya lukanya sudah kering
dan Notinggen tidak menampakkan kesakitan waktu lukanya tersebut aku pegang dan
sedikit ditekan.
buka verban |
Aku putuskan untuk membuka verbannya saat itu juga, tidak
menunggu nanti di Puskesmas. Soalnya kalo ditunda2 takutnya nanti Notinggen
tidak datang lagi, karena jarak dari gereja ini ke Puskesmas cukup jauh,
sekitar 800 meter. Aku meminta anak dari ibu guru Eta yaitu Ezra (5 tahun)
untuk mengambil gunting dirumahnya.
Setelah gunting datang, dengan disaksikan teman2nya yang
antusias…..akupun membuka verban yang membalut tangan Notinggen tersebut. Aku
buka verbannya lapis demi lapis….emm, kotor sekali verbannya…(ya maklumlah
namanya juga anak gunung, mainnya suka sembarangan… :) )
Setelah lapisan terakhirnya terbuka, aku bisa lihat bekas
luka di tangannya…. Alhamdulillah ternyata lukanya sudah kering…dan lukanyapun
sudah menutup dengan baik….ahh, lega juga rasanya melihatnya….
(Feb 2012)
Keren bgt yh pengalaman mu ad(y),salut dh buat tmn2 seperjuangan Ɣªήğ Gɑ̤̈ tkt ditmpt kan didaerah y bbeda 360• Dr daerah asal:)
ReplyDeleteSukses slalu y....
Ditunggu L̲̮̲̅͡å9î pengalamn seru lainny:)
makasih atas kunjungan dan komentarnya di Blog ini Dhona...
Deleteiyo, aku udah siapin beberapa cerita lainnya...dan aku juga udan menjadwal postingan tersebut, jadi bisa tetep posting di blog biarpun aku lagi di pos atau lagi ga bisa OL.
tunggu aja cerita-cerita berikutnya....n....jangan lupa sering2 aja mampir ke blogku yang baru seumur jagung ini... :)
sukses ad buat blognya, klo boleh di share pengalamannya di group yahooo alumni, udah join belum add? join aja di alumnifkuii-subscribes@yahoogroups.com
ReplyDeleteMakasih hen...
DeleteAku susah online hen, di pos ngga ada sinyal, di kota wamena juga sinyalnya ampun-ampunan...kalo mau online yang berat2 kudu via waenet hen...
Monggo hen, kalo mau di share mah....siapa tau ada temen-temen yang tertarik buat PTT di Papua juga.... :)